Share

Sabtu, 19 Maret 2011

RAHASIA KEBAJIKAN LEWAT MAKANAN IBU

Ada suatu keyakinan dari seorang  Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof Murdijati Gardjito, yang sangat menggugah dan membuat saya ingin mengabadikan keyakinan beliau disini, agar saya bisa membacanya sewaktu-waktu, agar saya tidak kehilangan nara sumber berharga ini, dan agar saya kembali tergugah jika suatu saat terlupa. Sambil berharap bahwa saya tidak hanya tergugah , tapi juga berusaha melaksanakannya. Demi Kebajikan depan anak-anak saya nanti. Penerus bangsa.

" Apa yang terjadi jika kita kehilangan makanan ibu ?_makanan yang diturunkan secara tradisi dan kita kenal sejak kecil ? Kita akan kehilangan sebagian kemanusiaan kita "
Begitulah keyakinan Prof Murdijati. Keyakinan yang membuat saya penasaran. Kenapa bisa begitu ? Emangnya apa hubungan makanan ibu dengan sisi kemanusiaan kita?

Maka saya melanjutkan bacaan saya,

"Makanan terkait perilaku dan gaya hidup. Kalau makanannya berubah , perilakunya juga berubah sesuai dengan lingkungan yang dominan.
Rangkaian pekerjaan antara orang yang makan nasi, jagung, ubi saja sudah berbeda.
Cara memasaknya juga berbeda, sehingga membentuk budaya masak yang khas, antara budaya masak yang pake tungku, kompor, gas serta listrik"

Oke,masuk akal.. lalu ?? saya melanjutkan membaca ...

" Beberapa jenis masakan ibu memiliki makna filosofi khusus. Tumpeng misalnya bagian puncaknya menyimbolkan hubungan manusia dengan Tuhan, sayuran disekelilingnya menggambarkan banyaknya masalah didunia, kacang panjang menyimbolkan usia panjang, kangkung menggambarkan lika liku kehidupan "

Hohoho, jujur saya baru tau nih ... ternyata ada maknanya hiasan-hiasan disekiling tumpeng, sampai bentuk kerucutnya pun ternyata mempunyai arti.

"Pada beberapa keluarga, ada tata cara makan yang namanya "urut awu" , artinya berurutan mulai dari ayah, ibu, anak paling tua, hingga anak yang paling muda. Tata cara makan ini mengajarkan toleransi dan tenggang rasa sejak dimeja makan. Belajar sabar, mau mikirin kepentingan orang lain dan tidak main serobot"
GEnerasi sekarang pada umumnya , tidak tahu lagi aspek budaya pada makanan ibu-nya. Jarang merasakan kebersamaan ibu dan ayah di dapur karena keduanya sibuk bekerja, sehingga tidak ada lagi yang mengajarkan kebajikan dan kebersamaan di meja makan, ini menjadi cermin hal serupa yang terjadi di dalam masyarakat " Jangan heran kalo toleransi dan tenggang rasa makin berkurang. Orang main serobot di mana-mana " tambah ibu Murdijati.

Nah lo, dampaknya makin gawat -.-

Pemodal besar kemudian membaca perubahan gaya hidup ini, lalu dengan iklan yang gencar, menawarkan produk makanan mi instan, makanan ibu pun makin terlupakan. Lalu ?? 60%  makanan tradisional satu persatu hilang. Dan bukan hanya makanannya, komoditas yang menunjang pun ikut hilang, karena tidak ada yang mengkonsumsi dan mengembangkan, contohnya 14 dari 24 jenis umbi di DI Jogjakarta telah punah. Nda cukup mi instan, makanan ibu juga dihantam makanan cepat saji. Dengan "busana" yang lebih mentereng, modern, dan berkelas.Sehingga sangat menggiurkan. Padahal gizi fast food tidak seimbang.
Jadi, sebenarnya apa yang sedang terjadi ?? "Ketika kita mulai melupakan makanan ibu, sebetulnya kita sedang membiarkan diri kita tercerabut dari akar budaya sendiri. Kita asing dengan diri sendiri, sebab apa yang kita miliki sekarang ( termasuk makanan ) adalah hasil meniru budaya orang lain".

Aah.. jadi sedih yaa..

Jadi apa ada yang bisa dilakukan??
Menurut Ibu Murdijati ada ..ada sekali. tergantung kemauan kita sebetulnya.

Pertama, generasi nenek  harus kembali kedapur untuk mengajari cucunya masak, karena ayah ibunya udah nda sempet ngajarin akibat kesibukan kerja diluar rumah.

Kedua, kurangin kebiasaan makanan mi instan dan fast food, Ibu Murdijati menganjurkan memasak dan mengkonsumsi masakan rumah, karena akan membangun kebahagiaan dan kebajikan yang makin hilang.

Ketiga , melaksanakan seruan gerakan "Slow Food" setidaknya dilingkungan keluarga sendiri. Gerakan "Slow Food" yang berlambangkan Keong nan lamban ini merupakan gerakan dunia, yang telah tiga kali melakukan konferensi di Milan, Italia.Seruannya antara lain ; harus tau asal-usul makanan yang masuk kedalam tubuh, harus masak dengan cara-cara yang jelas dan tidak mengandung zat berbahaya, menghargai orang yang memasak masakan untuk kita, mempunyai kebun sendiri, sehingga semua terkendali.

Keempat, Perbanyak variasi makanan sumber karbohidrat, kurangi konsumsi beras. Nah loh?!? Kayanya berat yah.. Karena orang Indonesia itu walo pagi - pagi udah makan ubi rebus, ato singkong goreng, tetep aja ngomongnya belum sarapan. kenapa? karena "nasi" belum masuk perut. hehe ..
Padahal sebetulnya Konsumsi beras kita sudah berlebihan. Kita mengonsumsi 139,35 Kg beras/Kapita tiap tahunnya. Padahal organisasi kesehatan dunia hanya merekomendasikan 60 Kg !!
Sebetulnya kalo dirunut, hal ini disebabkan "politik beras" yang diusung "Orde BAru" yang terlalu menyederhanakan masalah. Yang dipikirkan hanya produksi beras, tapi tidak memikirkan mendidik konsumen. Sehingga ketika beras melimpah, masyarakat dari sabang sampai merauke rame-rame mengonsumsi beras, meninggalkan ubi, singkong dan sagu. Apalagi orang yang mengonsumsi beras, dianggapnya status sosialnya tinggi.. Situasi ini menimbulkan problem di bidang kesehatan, ekonomi dan sosial. Pertambahan jumlah penduduk yang sangat tinggi, tidak mampu diimbangi produksi beras yang tinggi pula, walo sudah digenjot sekencang-kencangnya.Akibatnya ?? beras jadi mahal dan sulit untuk ditebus penduduk miskin.
Sebetulnya semua kepelikan tersebut bisa diatasi , jika pemerintah serius dan segera mendata makanan ibu.Mendata variasi sumber karbohidrat dan komoditas penunjangnya. Lalu membuat strategi pangan berbasis kekayaan alam sendiri. Nah, sementara menunggu pemerintah "bergerak", nda ada salahnya kita memulai dari diri sendiri dulu, dengan hal kecil dan sederhana. Yaitu mengurangi sumber karbohidrat yang berasal dari beras, serta memperkaya variasi karbohidrat yang berbasis makanan ibu.

Kelima, Berusaha menciptakan makanan baru yang disukai_terutama untuk generasi muda_yang berbasis makanan ibu berdasarkan daerah masing-masing. Misalnya di gunung kidul, membuat variasi makanan yang berbasis ketela pohon setempat.Sebetulnya hal ini bisa menjadi lahan bisnis sekaligus kegiatan kepahlawanan melestarikan komoditas daerah, bagi para entrepreneur Indonesia. 

Hmm, nara sumber yang cukup berat. Namun sarat manfaat, Menyadarkan saya, bahwa ternyata dari makanan ibu inilah kita membangun masa depan generasi penerus bangsa.

Sumber : Kompas Minggu,13 Maret 2011

2 komentar:

dae mengatakan...

alhamdulillah...

apa yg kita makan dgn hsil yg baik tentu akan berpengaruh jg pada apa yg terjadi pada diri kita setelahnya,entah itu mnjadi berkah dalam perjalanan hdpnya atau hilangnya penyaki2 hati dan berganti mnjdi kebajikan dalam diridsb...

thx hnie..keberkahan bersumber dari rasa iklash dan rasa syukur kita pada-Nya atas nikmat dari-Nya...

M.S.H

ArieWulan mengatakan...

Aamiin,, semoga bermanfaat ya hny

Posting Komentar