Share

Rabu, 18 Mei 2011

Hablum minannas…

Ada sesuatu yang menjadi renungan saya hari ini ...

Tentang ..
Begituu baanyak hal diluar diri kita, yang sanggup menyedot sebagian besar perhatian kita ..

Sebetulnya itu bisa menjadi hal positive jika kita bisa menyaring dan menjadikannya sebagai pemicu kebaikan buat diri kita.
Seperti memperhatikan orang-orang yang sukses dalam bisnis atau karier, bisa jadi orang-orang disekitar kita, entrepreneur sukses, bahkan para artis terkenal , melalui buku, majalah, koran , televisi dan media lainnya ..
Kita mencari tahu filosofi hidupnya, belajar tentang kegigihannya menggapai sukses, meniru keyakinannya..
Atau kita memperhatikan orang-orang saleh ..motivator ternama ..
kita berkomentar tentang ibadahnya, mengutip kata-kata mutiaranya, berusaha menerapkan prinsip-prinsip hidupnya, kedekatnya pada Allah, kekhusyukannya ..
.. dsb.. dst ..

Namun ..
Ada kalanya kita jadi "kebablasan" memperhatikan hal - hal  diluar diri kita ..
Memperhatikan karena sudah menjadi "kebiasaan",  sehingga kita malah lupa untuk menarik hal positive dan menjadikannya sebagai pelajaran..
dan sebaliknya malah menjadikannya hal yang mudharat
Ko bisa ??
Ya.. karena kita sudah terlalu terbiasa memperhatikan orang lain,
Terbiasa memperhatikan infotainmen, terbiasa berkomentar kritis bahkan juga pedass, tentang artis-artis yang sedang hangat diberitakan..kita lakukan itu dengan ringan , tanpa beban seperti makanan yang kita santap sehari - hari
Terbiasa memperhatikan tingkah laku teman sejawat kita, tetangga kita , pasangan hidup kita, memperhatikan dengan sangat jeli setiap detil kesalahannya,
lupa kebaikannya, terbiasa mencetuskan hal-hal yang kurang baik didepan atau dibelakangnya ..
Terbiasa memperhatikan nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain, hingga menimbulkan rasa iri dan ingin memiliki nikmat tersebut sampai lupa mensyukuri nikmat yang telah kita dapatkan sendiri..
Terbiasa menginginkan apa yang menjadi milik orang lain, untuk kita miliki pula, 
Sehingga menghambur-hamburkan rizki Allah untuk kepuasan nafsu, hingga terlupa untuk memberikan sebagian rizki kita yang sebetulnya merupakan hak orang-orang yang membutuhkan, 

Hingga hati tidak tenang ..
Terlalu sibuk memperhatikan hal-hal diluar diri kita
Lupa memperhatikan diri kita sendiri
Lupa memperhatikan apa yang sungguh-sungguh kita butuhkan
Yaitu, kebersihan hati, kejernihan fikiran, ketenangan sikap
Bukan berarti kita lalu menjadi manusia yang "Eksklusif"
tidak mau berbaur .. Dengan alasan takut "tercemar"
Bukan itu maksud saya..
Karena kodrat kita adalah sebagai mahluk sosial, Kita tidak hanya wajib menjaga Hablum Minallah , namun juga  Hablum Minannas.
Seperti dalam kisah Salah satu bulan yang dimuliakan Allah adalah bulan Rajab. Dalam peristiwa ini, Beliau melakukan perjalanan dari masjidil haram ke masjidil Aqsa, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Nabi Muhammad bertemu dengan Allah di Sidratul Muntaha, lalu berdialog dengan Allah yang isinya selalu kita baca pada saat tahhiyat dalam shalat kita. 
 
           “Attahiyyatul mubaarakaatus shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘alaa ‘ibaadillahish shaalihin. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah…..”
            yang artinya:
  Nabi Muhammad  : Segala kehormatan, keberkahan, dan kebaikan adalah milik  Allah
            Allah : Semoga keselamatan bagi engkau, wahai Muhammad, beserta rahmat dan keberkahan Allah.
                  Nabi Muhammad : Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba Allah uang shaleh.
            Para malaikat : Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan-Nya.. 
(HR. Muslim dan Ash-habus Sunan dari Ibnu Abbas)
Di dalam gerak sholat itu terdapat inti sari yang bisa kita aplikasikan, yaitu perbuatan Hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum minannas (hubungan dengan manusia).
Hablum minallah dijelaskan dalam Takbiratul ihram yang kita lakukan dalam awal shalat. Di sini, kita mengucapkan Allahu akbar (Allah Mahabesar) yang berarti kita adalah sangat kecil dihadapan-Nya. 
Sedangkan Hablum minannas dijelaskan dalam salam kita pada akhir sholat. Dengan salam, kita berdoa kepada saudara muslim kita agar diberikan keselamatan dan rahmat dari Allah. Sesama muslim kita dianjurkan untuk mengucapkan salam ketika bertemu.Ini merupakan bentuk hubungan antar sesama manusia yang sangat baik.
Dalam menjalani hidup ini, kita harus melakukan kedua hubungan itu dengan sungguh-sungguh. Allah tidak akan memuliakan orang yang hanya berhubungan dengan Allah saja, tetapi dengan sesama manusianya dia tidak memiliki hubungan yang baik. Allah pun juga tidak akan ridho kepada orang yang tidak mau berhubungan dengan Allah, walaupun dia berhubungan dengan baik dengan sesama manusia.
Jadi kita musti seimbangkan antara Hablum minallah dan Hablum minannas…
Kita tetap manusia sosial
Namun wajib menjaga kebersihan hati, kejernihan fikiran dan ketenangan sikap
Menjaga diri dari ikut menghina atau merendahkan martabat orang lain
menghindari diri dari rasa ingin memiliki semua yang menjadi nikmat Allah kepada orang lain

Bukan hal yang mudah
Tapi segala sesuatu yang baik, diawali dengan niat yang baik
Semoga selalu dalam bimbingan dan kasih sayang Allah

Aamiin Yaa Latif

sumber : renungan ,
yuamar.wordpress

0 komentar:

Poskan Komentar