Share

Minggu, 08 Mei 2011

MENYIKAPI AKTIVASI "ILMU" OTAK TENGAH

BAGAIMANA MENYIKAPI AKTIVASI "ILMU" OTAK TENGAH ?

" Anak saya mengikuti aktivasi otak tengah, setelah itu dia mempunyai beberapa ilmu, seperti bisa menebak apakah penyakit seseorang itu masih dalam stadium yang rendah atau sudah tinggi. Saya sebagai ibu, merasa khawatir.. " 
itulah kurang lebih nya pertanyaan salah seorang jamaah pengajian bengkel hati ,Minggu 8 mei 2011
Saya terkesiap, saya salah satu orang yang bercita-cita untuk memberikan "investasi" pelatihan otak tengah kepada anak saya nantinya....Ya!!.. siapa yang tidak bangga jika anaknya mempunyai kehebatan seperti yang banyak digaungkan oleh pelatihan-pelatihan aktivasi otak tengah ?
Seperti mampu melihat dengan mata tertutup, mempunyai intuisi yang kuat, kemampuan melihat aura, kemampuan fisik yang prima..

Lalu saya menyimak jawaban singkat ustad Danu..

Ustad Danu mengistilahkan Aktivasi Otak Tengah ( AOT ) itu sebagai suatu "ilmu" karena seorang anak bisa mempunyai berbagai kemampuan dengan cara instan, tanpa melalui proses belajar yang lama, seperti memegang buku tanpa dibaca sudah tau isinya.. aktivasinya dengan  hipnotis . Ustad Danu mengibaratkan sama seperti dengan "ilmu" kekebalan tubuh

Jadi bagaimana mungkin seorang anak yang tidak melalui proses belajar atau latihan tetapi tiba-tiba bisa mempunyai banyak kemampuan ? Dan anak itu pun tidak tahu bagaimana dia bisa mempunyai kemampuan seperti itu tanpa belajar ? Bisa jadi itu karena ada mahluk lain yang tidak tampak yang ada dalam si anak ,kemudian melakukan hal-hal tersebut.
Sehingga ustad Danu pun mengajak agar umat islam , tidak terbuai dengan cara - cara instan seperti itu, karena dikhawatirkan dampak nya dikemudian hari. Yang namanya suatu "Ilmu" yang bukan datang dari proses belajar, dan lalu terus menumpuk, dikhawatirkan tidak mampu diterima jiwa dan badan si anak. Dan paling gampangnya si anak bisa mengalami gangguan ingatan, karena dia banyak melakukan banyak hal dan kemampuan yang dia tidak sadari dan ketahui dari mana datangnya ( karena tanpa proses belajar terlebih dahulu )


Astagfirullah.. saya lalu mencari tau lebih banyak lagi di mbah Google
dan ternyata saya termasuk orang yang tertinggal berita, karena ternyata Maraknya pelatihan aktivasi otak tengah ini sudah membuat “gerah” para ilmuan, seperti yang saya dapat dari http://koranmuslim.com dengan topik "Hati hati Dengan Pelatihan Aktivasi Otak Tengah"
Dokter spesialis saraf, dr. Arman Yurisaldi MS.,SpS mengatakan, perangsangan otak yang salah bisa berakibat fatal.
“Setiap ahli saraf sadar, setiap sel otak yang mati dan sulit untuk tumbuh. Sehingga tidak boleh sembarangan dalam memberi terapi dan memberi saran-saran pengembangan otak,”

Arman mengatakan, pelatihan aktivasi otak tengan (AOT) adalah teori yang belum bisa dibuktikan dengan metode ilmiah yang benar. Buku-buku soal AOT yang beredar tidak ada satupun yang ditulis oleh ahli saraf. Akibatnya, banyak keterangan-keterangan tentang otak yang salah dalam buku-buku tersebut. Misalnya dalam teori AOT dikatakan, otak tengah berfungsi menghubungkan otak kiri dengan kanan. Padahal kata Arman, otak tengah berfungsi menghubungkan otak besar dengan otak kecil.
“Dari teori anatomi saja sudah salah,” katanya.

Teori AOT mengklaim, dengan anak yang diaktivasi otak tengahnya akan menjadi cerdas yang kreatif.   Padahal Arman mengatakan, " Tidak ada satupun bagian otak manusia normal yang tidak aktif, termasuk otak tengah. Gangguan sedikit saja pada daerah ini (otak tengah) bisa mengakibatkan terganggunya kesadaran ”

Arman menyimpulkan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ilmiah, dia tidak merekomendasikan para orang tua menyertakan anaknya dalam program AOT . Selain Arman, sekelompok dokter dan psikolog Indonesia juga telah membuat petisi Tolak Aktivasi Otak Tengah, http://www.ipetitions.com/petition/stop-aktivasi-otak-tengah/.


Tidak hanyak Arman,  Guru besar dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Profesor Syaiful Sagala juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati “Dalam dunia pendidikan sama sekali tidak dikenal adanya metode pemberdayaan otak tengah, yang disebut-sebut dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa. Tidak ada itu,” tutur Syaiful Sagala " Sejauh ini metode pemberdayaan otak tengah belum teruji. Kalau ada yang bilang bahwa otak tengah itu ada, itu bohong. Sejauh saya jadi dokter dalam anatomi tubuh manusia, tidak ada otak tengah itu. Saya berani bilang itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Lagipula, yang saya ketahui otak tengah itu tidak ada dalam anatomi tubuh manusia,’’ 


Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Batubara Surya Darma juga sependapat,  " Otak tengah itu tidak ada dalam ilmu pengetahuan medis. Kalau ada yang bilang bahwa otak tengah itu ada, itu bohong. Sejauh saya jadi dokter dalam anatomi tubuh manusia, tidak ada otak tengah itu. Saya berani bilang itu tidak dapat dipertanggungjawabkan,” papar Surya Darma.  ( http://www.voa-islam.com )

Dunia pendidikan hanya mengenal tiga metode yang biasa diterapkan, yakni konstruktifisme, efektifisme, dan humanis. Ketiga metode itu diterapkan melalui proses bertahap dan terus menerus, bukan seperti pemberdayaan otak tengah yang cenderung bersifat instan.
  
Lalu saya sempat membaca juga kajian OTAK TENGAH Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (Guru Besar Fakultas Psikologi UI)

" Sebetulnya yang dikatakan Otak tengah itu adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah) dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson.


Jadi ternyata, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. 

Para pakar ilmu syaraf (neuroscience) Richard Haier dari Universitas California dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat, menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam ukuran IQ tidak terpusat pada satu bagian tertentu dari otak, melainkan merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak. Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha, ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial.


Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tak satu pun bisa menggambar dengan mata tertutup.


Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan.


Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran penipuan.


Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak tengah ini.

( SARLITO WIRAWAN SARWONOGuru Besar Fakultas Psikologi UI ** ringkasan dari  http://hudan-ibnul-iman.blogspot.com )

Subhanallah, begitu banyak hal di dunia ini yang " tampak " bagus dan hebat dipandangan manusia awam, namun ternyata merupakan ujian keimanan bagi kita. Apakah kita akan tergoda atau selalu berusaha mengembalikan semua itu dengan sudut pandang pikiran agama.

Saya bersyukur mendapat ilmu hari ini, semoga kita diberi hidayah agar bisa mengambil hikmahnya. Aamiin Yaa Batin

1 komentar:

Yulianto Ade saputro mengatakan...

Hmmm iya jg yh,,

Poskan Komentar