Share

Selasa, 26 April 2011

Memaksakan Kehendak


 "Jangan memaksakan kehendak kamu jika kamupun tidak mau dipaksa"

Allah telah menciptakan potensi positif dan negatif di setiap diri manusia, dalam bahasa agamanya, Taqwa dan Fujur (asy-syams:7-10). Agar tidak terjerat dalam sifat negatif, manusia dianjurkan untuk menggunakan akal dalam mencapai hidayah Allah, silahkan lihat al-Qur'an surat yunus (10) ayat 99 :

99. Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? 



Mari kita sedikit memperhatikan sifat setan, Setan hanya punya satu hal yang akan dilakukannya hingga akhir zaman: yaitu membujuk manusia untuk mengikuti jalannya. .

BAgaimana dengan manusia ?  manusia mempunyai nafsu. Manusia tidak pernah puas. Jika satu hal telah tercapai maka ia menginginkan hal yang lain. Kadangkala, nafsu manusia ini menguasai dirinya melebih kuasa hati dan pikirannya. Contoh kecil nafsu manusia adalah memaksakan kehendak. Contoh dari memaksakan kehendak adalah memaksa seseorang untuk menyerahkan harta bendanya (merampok, mencopet, dll).

Kalau manusia bisa memaksa, tidak dengan setan. Setan dalam mengajak manusia ke jalannya tidak menggunakan paksaan.
Setan menggoda manusia dengan iming-iming yang masuk akal. Ketika tidak berhasil, dia (setan) akan datang lagi dan kembali menggoda. Proses ini akan berjalan terus hingga misinya berhasil atau dia terhempas dan terpaksa pergi. Dia tidak memaksakan manusia untuk mengikuti jalannya. Setan menjalankan tugasnya dengan sabar dan terus menerus.

Manusia, seringkali memaksakan kehendaknya.
Catatan sejarah menyebutkan bagaimana raja-raja memaksa rakyatnya untuk melakukan ini dan itu.
Sejarah mencatat bagaimana manusia memaksa orang lain melayani nafsunya.
Sejarah juga mencatat bagaimana politisi memaksa orang kecil untuk memilih dirinya.
 
Muhammad (shollallahu ‘alaihi wasallam) tidak pernah sekalipun melakukan hal yang memaksakan kehendak, baik saat beliau sedih maupun senang. 
Beliau juga mengajarkan pada umatnya untuk tidak menggunakan nafsunya dan atau memaksakan kehendak. Memaksakan kehendak berarti menggunakan nafsu. Bahkan untuk mengajak manusia masuk ke dalam Islam, beliau menggunakan cara yang baik. 

Adapula manusia yang memiliki keinginan supaya terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Ada yang sampai yang mengabaikan pantas tidaknya cara mereka menonjolkan diri sehingga membuat orang disekitarnya tidak nyaman bahkan sangat tidak nyaman.

Tentu sangat bagus jika memiliki sebuah dorongan untuk maju dan terdepan dari diantara yang ada, tapi jika caranya memaksa tentu saja ini akan jadi bumerang bagi diri sendiri.



Misalnya suka main perintah seenaknya tanpa pandang posisi seseorang, mendominasi percakapan supaya pendapatnya dijalankan dan masih banyak contoh lagi.
Ddalam sebuah hubungan percintaan pun hal itu bisa terjadi dan memang benar-benar ada korban dari sikap tersebut, karena salah satu pihak tidak dapat mengontrol diri sendiri.
Tidak bisa mengontrol diri dalam artian selalu memaksakan kehendaknya. Segala sesuatu yang akan dilakukan walaupun hanya untuk sekedar berkunjung ke rumah saudara harus ditentukan oleh si dominan ini. Sedikit saja berbeda pendapat, pasti akan menjadi masalah besar yang ujung-ujungnya keluar kata-kata kasar dan ancaman. Jika terus seperti ini, siapapun tidak akan kuat kecuali hidupnya benar-benar tergantung kepada si dominan ini. Kasihan sekali melihat ada seseorang yang masih seperti ini.

Semoga ada hikmahnya

Sumber :browsing

0 komentar:

Poskan Komentar